Keberadaan tempat sampah menjadi hal umum di kawasan publik, disitu akan terdapat tempat sampah untuk sampah kering dan sampah basah. Biasanya petugas kebersihan akan rutin mengambil dan mengoleksi sampah-sampah ini. Sebenarnya apa yang terjadi bila seluruh tempat sampah ini menjadi komposter?
Tentunya akan banyak hal yang terjadi akibat tempat sampah berubah menjadi komposter. Bisa jadi petugas kebersihan akan datang mengoleksinya seminggu sekali atau bisa jadi dua minggu sekali, bahkan bisa juga sebulan sekali. Tentunya akan sangat hemat di ongkos dalam penyelenggaraan kebersihan kota.
Juga kompos yang dihasilkan bisa jadi akan menjadi barang berharga dan rebutan banyak orang. Bisa jadi pula petugas kebersihan tidak akan mendapatkan apapun saat melihat tempat sampah yang berubah menjadi komposter ini. Memang ini sisi positifnya, tapi bagaimana mengatur ribuan komposter, bahkan mungkin lebih banyak lagi.
Meskipun sebenarnya komposter memiliki waktu untuk membuat kompos, bisa dua minggu, tiga minggu, bahkan sebulan atau lebih. Mungkin saja komposter tidak akan muat dengan volume sampah yang masuk. Lagian tidak semua sampah bisa menjadi bahan kompos, ada beberapa jenis sampah yang memang sulit atau tidak bisa dibikin kompos, seperti sampah plastik, kertas, kaca, kaleng minuman.
Bisa jadi komposter tidak bekerja sesuai dengan harapan dan menjadi tempat sampah kembali. Mungkin perlu seorang untuk mengawasi komposter atau menyortir sampah yang masuk. Disini memang terlihat peran publik dalam membuat komposter bisa bekerja optimal.
Setidaknya publik harus sadar atau aware, bahwa peran komposter sangat bagus dalam tata kelola lingkungan. Kesadaran ini memang tidak mudah terbangun, selama tidak pernah dicoba, selama tidak pernah diusahakan. Dalam banyak kasus di beberapa tempat sukses dalam membuat tempat sampah menjadi komposter.
Memang tempat sampah beda dengan komposter, karena komposter lebih komplek dari sekedar tempat sampah. Komposter memerlukan kondisi sampah yang siap menjadi bahan kompos. Kalau bisa berukuran kecil dan mudah lapuk, penyeleksian sampah ini memang sudah harus menjadi prasyarat saat orang akan memasukan sampah ke dalam komposter.
Jadi sudah ada aturan, mana jenis sampah yang masuk ke komposter. Ini bisa diwujudkan dengan sebuah gambar yang menarik di samping sebuah komposter sebagai petunjuk dan media pendidikan. Memang terlihat rumit, tapi itulah pendidikan, betapa sulitnya membuat orang pintar, butuh bertahun-tahun.
Demikian pula membuat orang atau publik sadar akan tata kelola lingkungan yang baik. Butuh waktu dan usaha yang keras, kebiasaan yang baik memang akan memerlukan teknis yang praktis agar mudah dicerna dan dilaksanakan. Jadi tidak ada ruginya merubah tempat sampah menjadi komposter, selain lebih efisien dalam mengelola sampah, juga lebih ramah lingkungan.