Gagal panen sudah menjadi hal biasa bagi petani, meskipun sering membuat mereka stress. Sudah berapa uang yang dibelanjakan untuk beli bibit, pupuk kimia, dan tenaga yang semuanya tidak kembali. Bahkan ada beberapa anggapan bahwa pupuk kimia menyebabkan mereka gagal panen.
Tentu saja ini perlu dibuktikan lagi secara ilmiah, memang sih sebelum mereka memakai pupuk kimia, tanaman mereka tidak diserang hama. Namun setelah memakai pupuk kimia begitu mudahnya hama menghabiskan tanaman mereka. Masih perlu telaah lebih lanjut, karena teori mereka sangat beralasan.
Hal ini memang dikeluhkan beberapa petani akhir-akhir ini, begitu mudahnya tanaman yang mereka harapkan untuk dipanen, telah habis dimakan hama. Padahal sudah banyak uang yang dibelanjakan, baik untuk bibit, pupuk maupun obat untuk memberantas hama. Seakan hama ini sudah begitu kebal dengan obat yang ada. Bisa jadi hal ini terjadi karena mekanisme ekologi sudah terganggu keseimbangannya.
Hama tanaman yang sebenarnya dimangsa oleh predator di atasnya, tidak lagi terjadi karena predator ini ikut terbunuh saat pemberian obat pada tanaman. Beberapa hama sepertinya memiliki evolusi sendiri, membuat spesies mereka kebal terhadap obat hama yang cukup keras sekalipun. Disinilah mulai timbul penggunaan kompos sebagai pengganti pupuk kimia.
Kompos lebih murah dari pupuk kimia
Memang harga kompos saat ini lebih murah dari pupuk kimia, bahkan ketersediaannyapun lebih siap dibandingkan pupuk kimia yang sering hilang dipasaran. Lebih sering harga pupuk kimia tidak ekonomis, hal ini akibat mekanisme pasar, lebih tepatnya permainan distribusi pupuk. Bila pupuk kimia sedang banyak dicari, hanya dengan menunda pengiriman satu hari saja ke system distribusi, sudah cukup membuat harga pupuk kimia naik.
Kelangkaan pupuk kimia yang sering terjadi memang bisa menjadi kesempatan bagi kompos mengisi tempat pupuk kimia. Meskipun seara prinsip kompos sama dengan pupuk kimia, tapi mekanisme pemberiannya akan berbeda. Memang perubahan mekanisme inilah yang menjadi kendala tersediri bagi kompos untuk menggantikan pupuk kimia.
Kompos memang tidak bisa diberikan langsung seperti pupuk kimia, meskipun bisa tapi keefektifannya menjadi kurang baik. Namun kompos sangat baik saat diberikan bersama waktu pengolahan lahan. Tentunya bila kompos jadi pengganti pupuk kimia, memang perlu teknik bertani yang fleksibel. Meskipun semua itu harus direncanakan sebelum musim cocok taman berlangsung.
Kompos mudah didapat dibandingkan pupuk kimia
Bila ingin kompos berapapun jumlahnya pasti akan terpenuhi, karena kompos mudah sekali mendapatkannya. Bahkan banyak petani maupun yang bukan petani bisa membuat kompos sendiri. Contoh sederhana dengan mengolah sampah di rumah menjadi kompos, ini sudah membuat kompos akan mudah didapatkan.
Meskipun kebutuhan petani akan kompos sangat besar, tetap bisa saja didapatkan. Caranya bisa saja dengan mengolah sisa hasil panen, seperti jerami, batang jagung, daun tebu, semuanya bisa diolah menjadi kompos dan dikembalikan ke struktur tanah. Ini tentunya perlu perencanaan bagi pengolahan lahan yang harus dilakukan sebelum musim cocok tanam. Ada istilah masa menyiapkan lahan sebelum cocok tanam, masa inilah fungsi sebuah kompos bisa dimaksimalkan, sehingga lambat laun kompos bisa menggantikan pupuk kimia secara keseluruhan.